Waspadai Kompleks Oedipus pada Anak Laki-laki
Encyclopedic
PRE
NEXT
Saat ini, di beberapa keluarga, hubungan antara anak laki-laki tunggal dan ibunya menjadi terlalu dekat. Terutama ketika ayah sibuk dengan pekerjaan dan mengabaikan istri serta anak-anaknya, beberapa anak laki-laki mungkin mengembangkan 'kompleks Oedipus'.
Dalam beberapa tahun terakhir, dengan meningkatnya jumlah anak tunggal, beberapa orang tua menghadapi masalah dalam pendekatan mereka terhadap pengasuhan dan metode pengasuhan anak. Beberapa anak laki-laki masih berbagi tempat tidur dengan orang tua mereka, dan dalam beberapa kasus, orang tua tidak melindungi anak-anak yang lebih muda dari menyaksikan aktivitas seksual mereka.Anak laki-laki lain terus berbagi tempat tidur dengan ibunya, meninggalkan ayah di pinggir, yang menyebabkan berbagai masalah begitu masa remaja dimulai. Beberapa ibu paruh baya bahkan membanggakan kedekatan antara ibu dan anak laki-lakinya, seperti bagaimana anaknya tidak bisa berpisah darinya, "menempel" pada tempat tidurnya dan menolak untuk pergi. Mereka menganggap ini sebagai anak yang "manja", tanpa menyadari ada yang salah dengan itu.
Oleh karena itu, "kompleks Oedipus" tampaknya merupakan hasil dari pola asuh yang cacat, atau lebih tepatnya, kelebihan kasih sayang ibu. Menggunakan terminologi Freud, dapat disarankan bahwa "fiksasi ibu terhadap anak laki-laki" memicu "kompleks Oedipus" pada anak laki-laki. Akibatnya, fenomena ini dapat dengan tepat disebut sebagai "fiksasi timbal balik ibu dan anak laki-laki."
Akibat dari "ikatan ibu-anak yang saling bergantung" ini sangat mengkhawatirkan. Dalam kasus ekstrem, hal ini menimbulkan tragedi hubungan ibu-anak yang tidak sehat. Lebih umum, hal ini sangat menghambat perkembangan pribadi anak laki-laki. Survei psikologis menunjukkan kasus-kasus semacam ini sering muncul dalam konseling telepon atau surat yang bersifat rahasia.Akibat kelebihan kasih sayang ibu, anak-anak laki-laki ini menunjukkan ketidakmatangan psikologis, ketergantungan yang kuat, penarikan diri sosial, dan ketidakmampuan berinteraksi dengan teman sebaya, serta kurangnya vitalitas maskulin yang khas. Dalam praktik konseling saya, saya menemui beberapa pria "remaja abadi" yang, meskipun secara fisik sudah dewasa, tetap secara psikologis tidak matang. Setelah ditanya, mereka memiliki kesamaan: semua tidur di tempat tidur yang sama dengan ibu mereka hingga remaja.
Namun, sebagian besar orang tua muda dan paruh baya menunjukkan kebijaksanaan. Mereka mulai menanamkan kebiasaan tidur sendiri di kamar terpisah untuk anak-anak di atas tiga tahun. Mereka mengatakan kepada anak-anak mereka: "Kamu sudah tumbuh dewasa; kamu harus memiliki ruang sendiri. Mari kita siapkan kamar khusus untukmu. Kamu perlu berlatih tidur sendiri dan berhenti bergantung pada orang tua." Dengan tekad yang kuat dan bimbingan yang efektif, kemandirian anak-anak secara bertahap meningkat, dan mereka cepat beradaptasi dengan ekspektasi tersebut. Inilah cinta sejati untuk seorang anak.
PRE
NEXT