Apakah Menjadi Jomblo Memperpendek Usia Pria?
Encyclopedic
PRE
NEXT
Sebuah studi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan bahwa jantung dan sistem pencernaan pria secara alami lebih rentan daripada wanita, dengan tingkat penyakit kardiovaskular dan gastrointestinal yang beberapa kali lipat lebih tinggi. Selain itu, pria menghadapi tekanan sosial yang lebih besar, yang menimbulkan tantangan signifikan bagi kesehatan mental mereka. Meskipun demikian, kebanyakan pria tetap tidak peduli dengan kesehatan mereka, terus-menerus menguras vitalitas mereka melalui pengabaian jangka panjang terhadap kebiasaan gaya hidup yang merugikan.
Baru-baru ini, American Care Network menerbitkan artikel yang merangkum delapan kebiasaan yang memperpendek usia dan meningkatkan risiko penyakit pada pria. Edisi Life Times ini mewawancarai para ahli terkemuka untuk memberikan peringatan kesehatan bagi sesama pria.
Bahaya merokok sudah diakui secara luas, namun banyak yang tidak menyadari tingkat keparahannya. Penelitian menunjukkan bahwa semakin lama seseorang merokok, semakin besar kerusakan yang ditimbulkan pada paru-paru. Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), penyebab utama kematian pada pria, sebagian besar terkait dengan merokok. Merokok bertanggung jawab atas 80–90% kasus kanker paru-paru. Selain itu, perokok pria berisiko lebih tinggi mengalami gangguan kognitif di usia lanjut.Wang Kai menyarankan bahwa, selain tekad yang kuat untuk berhenti merokok, menerapkan strategi yang efektif sangat penting—seperti menciptakan lingkungan di mana merokok menjadi tidak praktis.
Kebiasaan makan yang tidak sehat. Gizi yang tidak seimbang erat kaitannya dengan penyebab utama kematian pada pria: penyakit jantung, diabetes, dan kanker. Wang Kai mencatat bahwa gaya hidup pria yang sibuk dengan pekerjaan seringkali mengarah pada pilihan yang menghemat waktu namun tidak sehat, seperti mengonsumsi makanan cepat saji dalam jumlah besar.Selain itu, mengabaikan kesehatan melalui makan berlebihan dan konsumsi alkohol berlebihan dapat menyebabkan penambahan berat badan seiring waktu, memicu kadar lipid darah tinggi, hipertensi, dan hiperglikemia, yang pada gilirannya menyebabkan berbagai penyakit. Wang Kai menyarankan untuk membiasakan pola makan sehat, memastikan keseimbangan nutrisi, mengonsumsi makanan sehat untuk jantung seperti ikan, produk kedelai, kacang-kacangan, oat, dan bawang putih, sambil mengurangi asupan garam dan meningkatkan konsumsi buah dan sayuran.American Foundation for Suicide Prevention mencatat bahwa meskipun wanita tiga kali lebih mungkin mencoba bunuh diri daripada pria, pria memiliki tingkat kematian bunuh diri yang lebih tinggi. Pria menyumbang 79% dari semua kematian bunuh diri, dan setelah usia 65 tahun, tingkat bunuh diri pria tujuh kali lipat dibandingkan wanita seusia. Penyalahgunaan alkohol kronis semakin meningkatkan risiko bunuh diri.Para ahli menyarankan pria untuk memprioritaskan kesehatan mental, belajar mengelola stres atau suasana hati yang buruk. Mereka juga harus menyadari bahwa gejala seperti insomnia, sakit kepala, atau nafsu makan yang buruk dapat menandakan masalah psikologis yang mendasar dan menganggapnya serius. Belajar secara proaktif tentang kesehatan mental dan menumbuhkan pandangan positif dan bahagia sangat penting.
Status lajang. Meskipun sering disebut 'kebanggaan', status lajang tidak sama dengan kesehatan yang baik. Individu lajang lebih rentan terhadap kecemasan dan harga diri yang rendah, serta secara fisik lebih rentan terhadap penyakit.Dibandingkan dengan wanita, risiko kesehatan akibat kesendirian lebih besar bagi pria. Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam American Journal of Epidemiology menemukan bahwa pria lajang hidup 8–17 tahun lebih pendek daripada rekan-rekan mereka yang menikah. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa setelah usia 50 tahun, pria lajang mengalami penurunan fisik yang lebih cepat dibandingkan dengan pria yang menikah.Analisis dalam British Medical Journal menunjukkan bahwa pernikahan membantu mengurangi stres dan tingkat depresi, sehingga mencegah berbagai penyakit. Pria yang tidak menikah lebih cenderung mengembangkan kebiasaan buruk seperti penyalahgunaan alkohol, pola makan buruk, menghindari perawatan medis, dan perilaku seksual yang tidak terkendali. Para ahli menyarankan agar orang lajang mencari pasangan jika memungkinkan, atau alternatifnya terlibat dalam aktivitas sosial positif dan berinteraksi lebih banyak dengan orang lain.
Mengemudi ceroboh. Penelitian menunjukkan bahwa cedera kecelakaan adalah penyebab utama kematian di kalangan pria berusia 40–44 tahun, dengan pria secara umum lebih rentan mengalami kecelakaan lalu lintas daripada wanita. Studi oleh Purdue University di Amerika Serikat menemukan bahwa alasan utama pria paruh baya lebih sering terlibat dalam kecelakaan meliputi: mengemudi dalam keadaan lelah, melebihi batas kecepatan, dan mengemudi ceroboh pada akhir pekan atau larut malam.
Penggunaan perangkat elektronik yang berlebihan. Waktu yang dihabiskan untuk bermain game, menggunakan komputer, atau mengoperasikan ponsel pintar mengurangi waktu yang dialokasikan untuk aktivitas sehat seperti olahraga, tidur, dan interaksi sosial. Penurunan interaksi sosial meningkatkan risiko depresi dan gangguan kognitif. Pria menunjukkan kendali diri yang jauh lebih lemah dalam hal ini, karena perhatian wanita sering teralihkan oleh tugas mengasuh anak atau pekerjaan rumah tangga.
Gaya hidup sedentari.Banyak pria mengandalkan mobil untuk transportasi dan lift untuk pergerakan vertikal, menghabiskan sebagian besar hari mereka duduk dan tidak aktif. Seiring waktu, gaya hidup sedentari ini dapat menyebabkan obesitas, tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, kolesterol tinggi, osteoporosis, dan kondisi kronis lainnya. Selain itu, duduk dalam waktu lama dikaitkan dengan prostatitis kronis pada pria. Pria harus mengubah gaya hidup mereka dan menjadi lebih aktif. Wang Kai merekomendasikan untuk memanfaatkan setiap kesempatan untuk berolahraga, seperti berjalan kaki daripada mengemudi, menggunakan tangga daripada lift, dan memasukkan aktivitas fisik singkat selama istirahat kerja.
Mengabaikan perlindungan UV. Penelitian oleh American Academy of Dermatology menunjukkan bahwa pria memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker kulit dibandingkan wanita, karena mereka lebih banyak menghabiskan waktu di luar ruangan untuk bekerja atau berolahraga, memiliki rambut yang lebih pendek sehingga memberikan perlindungan yang lebih sedikit, dan akibatnya terpapar sinar UV berbahaya dalam jumlah yang lebih besar.American Academy of Dermatology juga mencatat bahwa pria memiliki kesadaran perlindungan diri dan skrining yang lebih rendah terkait kanker kulit. Masalah ini kurang menonjol di China, di mana paparan sinar matahari secara keseluruhan masih relatif rendah, sehingga mencegah komplikasi serius seperti kanker kulit. Namun, kegagalan mengenakan kacamata hitam di luar ruangan seringkali menyebabkan perkembangan katarak seiring waktu. Disarankan untuk melindungi semua bagian tubuh selama musim panas ketika radiasi ultraviolet sangat intens.
PRE
NEXT