Mengapa pria jarang memuji kecantikan istri mereka?
 Encyclopedic 
 PRE       NEXT 
Sudah menjadi rahasia umum bahwa pria secara alami tertarik pada wanita cantik. Jika seorang istri yang sudah menikah benar-benar percaya bahwa suaminya tidak lagi peduli dengan penampilannya dan mengabaikan perawatannya, dia sangat keliru. Persepsi ini berasal dari fenomena psikologis "istri jelek" pada pria.
Banyak wanita yang sudah menikah mungkin mengenali perasaan ini: tidak peduli seberapa cantik Anda sebelum menikah, jarang sekali mendengar pujian suami setelahnya. Dia mungkin memuji keterampilan domestik Anda, tetapi jarang memuji penampilan Anda. Lebih buruk lagi, dia mungkin bahkan mengkritik: "Berhenti berdandan seperti burung. Seorang wanita dewasa harus berpakaian dengan wibawa dan sopan santun."
Saya ingat sebuah buku yang mengatakan: penampilan seorang wanita sebelum usia tiga puluh adalah anugerah dari orang tuanya, tetapi setelah usia tiga puluh, penampilan itu dibentuk melalui perawatan."Pengasuhan batin" menumbuhkan kelembutan dan kedalaman, sementara "pengasuhan luar" cenderung pada kecantikan fisik. Secara logis, keduanya seharusnya saling melengkapi—terutama karena kecantikan alami tidak dapat bertahan dari dampak waktu. Namun, mengapa pria yang sudah menikah tidak menyetujui ketika istrinya berusaha mempercantik diri? Apakah benar seperti yang mereka klaim: "Bahkan jika kecantikanmu memudar, aku tidak akan pernah meremehkanmu"?
Sudah menjadi rahasia umum bahwa pria secara alami tertarik pada wanita cantik. Bagi seorang istri yang benar-benar percaya pada kata-kata suaminya, berpikir bahwa dia benar-benar tidak peduli lagi dengan penampilannya dan sehingga mengabaikan perawatan diri, akan menjadi kesalahan besar. Sebab, yang terjadi di sini hanyalah psikologi "istri jelek" seorang pria.
Peribahasa "istri jelek adalah harta di rumah" telah mendalam tertanam di kalangan pria yang sudah menikah. Sebelum menikah, pria seperti pemburu, selalu mencari mangsa terbaik untuk memuaskan kesombongannya. Namun, setelah membawa mangsa itu pulang, dia merasa krisis dan berusaha meredupkan kilauannya, mencari kebahagiaan dalam kehidupan biasa.
Akibatnya, pria sering mengeluh tentang pengeluaran istri mereka yang tak henti-hentinya untuk kosmetik, pakaian, dan sepatu. Bagi mereka, seorang wanita yang sudah menikah yang tidak bisa menetap untuk mendukung suaminya dan membesarkan anak-anak, namun tetap terlalu sibuk dengan penampilannya, pada akhirnya tidak memenuhi ideal seorang istri dan ibu yang baik.
Seorang teman sekelas perempuan pernah bercerita padaku bahwa suaminya sepertinya selalu tidak puas dengan penampilannya. Jika dia berpakaian muda dan modis, suaminya akan mengejeknya karena berpura-pura polos. Awalnya, dia percaya dirinya memang kurang matang, sehingga lebih memilih pakaian profesional. Faktanya, setelan jasnya tidak pernah membuatnya terlihat sebaik pakaian modisnya.Baru setelah dia melihat istri seorang rekan kerja di sebuah acara—berpakaian sepatu bot setinggi lutut, rok pendek, dan tas selempang ber tali panjang—dia menyadari bahwa seorang wanita di usia empat puluhan bisa mengenakan pakaian seperti itu dan tetap terlihat muda. Dia sendiri baru saja melewati usia tiga puluh. Dia menarik telinga suaminya dan menuntut penjelasan. Dia mengaku: "Aku takut kamu terlalu cantik, membuatku merasa tidak cukup baik."
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa mentalitas "istri jelek" seorang pria pada dasarnya adalah bentuk perlindungan diri. Namun, seorang wanita yang tidak menimbulkan tekanan pada suaminya berisiko membuatnya perlahan-lahan merasa bosan, dan cintanya padanya perlahan memudar. Dengan berani menantang psikologi "istri jelek" ini, dia akan merasa terdorong untuk menggandakan usahanya dalam mencintaimu.
 PRE       NEXT 

rvvrgroup.com©2017-2026 All Rights Reserved