Bagaimana Orang Tua Harus Merespons Permintaan yang Tidak Masuk Akal dari Anak-Anak?
Encyclopedic
PRE
NEXT
Bagaimana orang tua harus merespons permintaan yang tidak masuk akal dari anak? Pertama, pahami mengapa anak membuat permintaan tersebut.
Permintaan yang tidak masuk akal dari anak adalah ujian terhadap batas-batas orang tua.
Ketika anak menyadari bahwa mereka dapat menekan orang tua untuk memenuhi permintaan yang tidak masuk akal atau tidak adil, hal ini memicu rasa bersalah dan iritasi yang berkelanjutan.Mereka menyadari hal ini salah dan seharusnya menunjukkan lebih banyak rasa hormat kepada orang tua, namun mereka membutuhkan batasan (sama seperti kita semua membutuhkan batasan).
Orang dewasa memahami batasan, tetapi anak-anak secara alami tidak memilikinya dengan ibu mereka. Batasan harus diajarkan. Tanpa batasan, anak-anak merasa bingung, tidak tahu apa yang benar atau salah, dan beralih ke tekanan yang lebih besar, secara tidak sadar berharap untuk mengungkap batas-batas orang tua mereka.
Pengasuhan pada dasarnya adalah proses komunikasi psikologis dengan anak-anak – sebuah pertempuran psikologis. Oleh karena itu, hal ini membutuhkan pendekatan strategis. Untuk itu, seseorang harus mempelajari sifat kepribadian dan karakteristik psikologis anak untuk merumuskan strategi yang disesuaikan.
Dalam hal ini, mari kita ambil inspirasi dari beberapa metode mengatakan 'tidak' kepada anak-anak yang dirangkum dalam buku Howard Gardner, The Art of Changing Minds!
1. Ganti "Tidak" dengan "Kamu Boleh"
Psikolog Dr. Gléran mencatat bahwa beberapa anak kesulitan memahami penolakan orang tua ketika hanya diberi jawaban "Tidak." Selain itu, Ms. Lin Wencai dari Satir Practical Psychology menekankan penerimaan tanpa syarat terhadap kelemahan anak: terima kelemahan mereka, toleransi terhadap frustrasi mereka yang sering, dan terima bahwa mereka mungkin tidak pernah mencapai ideal kesempurnaan Anda.Saat menangani perilaku anak, peran utama orang tua adalah menerima, bukan langsung mengkritik.
Misalnya, jika anak meminta permen dan orang tua berkata, "Tidak boleh makan permen sebelum makan malam," hal itu hanya akan memicu kemarahan. Sebaliknya, mengatakan, "Ya, kamu boleh makan permen setelah makan malam. Mari makan apel sekarang," jauh lebih mungkin diterima.
2. Jelaskan perasaan Anda dengan sabar
Profesor Ray Thompson, seorang ahli sengketa dari Northwestern University, menyarankan untuk menjelaskan dengan sabar kepada anak-anak mengapa perilaku mereka mengganggu. Misalnya, ketika seorang anak terus-menerus memukul meja makan, orang tua mungkin berkata: "Memukul seperti itu akan merusak meja, dan itu membuatku sedih."Tolong hentikan mengetuk, ya?
Berbicara dengan anak-anak kecil mungkin terlihat sia-sia, namun hal ini benar-benar membantu anak-anak memahami bahwa tindakan mereka memengaruhi orang lain dan bahwa mereka harus belajar mempertimbangkan perasaan orang lain.
3. Berikan anak pilihan antara dua opsi
Lerner, Direktur Sumber Daya Parenting di sebuah organisasi nirlaba terkemuka di Amerika Serikat, menyatakan bahwa memberikan anak pilihan membuat mereka merasa memiliki "kekuatan" untuk mengendalikan situasi.
Mendorong anak usia 1 hingga 3 tahun untuk membuat pilihan sederhana dapat menumbuhkan kemandirian. Namun, hindari membebani mereka dengan terlalu banyak pilihan—dua pilihan sudah cukup untuk balita dan anak prasekolah. Misalnya: "Kamu bisa menggulingkan bola di dalam rumah, tapi lemparkan di luar."Pilihan mana yang akan Anda pilih?
4. Tunjukkan secara langsung dan jelaskan
Clarie, penulis buku No Spanking, No Spoiling dan ahli parenting, mencatat bahwa beberapa anak terus-menerus melakukan perilaku mengganggu hanya karena mereka tidak menyadari adanya tindakan alternatif.
Dalam situasi seperti itu, orang tua harus mendemonstrasikan dan menjelaskan perilaku alternatif. Misalnya, jika Henry yang berusia dua tahun sering menusuk adik perempuannya, orang tua dapat membimbingnya dengan mengatakan, "Berikan adikmu ciuman" atau panduan serupa. Kali berikutnya, Henry kecil akan memahami cara merespons dengan tepat.
PRE
NEXT