Dorongan tak terkendali untuk makan makanan junk food? Waspadai kenaikan berat badan akibat stres
 Encyclopedic 
 PRE       NEXT 
Sebagian besar orang menyadari bahwa obesitas tidak hanya disebabkan oleh ketidakseimbangan hormonal, tetapi secara fundamental oleh konsumsi kalori yang lebih banyak daripada yang dibakar. Namun, penelitian menunjukkan bahwa stres kerja yang tinggi juga dapat berkontribusi pada penambahan berat badan. Ketika tekanan mental menjadi terlalu berat dan tekanan fisik tidak teratasi, tubuh secara tidak sadar mencari ketenangan melalui konsumsi berlebihan makanan junk atau berkalori tinggi.
Penambahan berat badan akibat stres tidak dapat diatasi melalui kontrol diet konvensional. Bahkan jika Anda makan lebih sedikit, hal itu mungkin tidak menyebabkan penurunan berat badan. Sebaliknya, hal itu dapat memperburuk ketegangan mental, menciptakan siklus setan di mana sebagian besar upaya penurunan berat badan gagal.
Bagi mereka yang ingin menurunkan berat badan akibat stres, langkah pertama adalah menentukan apakah obesitas mereka disebabkan oleh stres. Bagaimana cara mengidentifikasi penambahan berat badan akibat stres?Pertimbangkan indikator berikut: jika dua di antaranya cocok, hal itu menunjukkan penambahan berat badan akibat stres atau kemungkinan besar obesitas, sehingga memerlukan pencegahan yang ketat.
1. Nafsu makan meningkat saat tekanan kerja meningkat
Meskipun tidak merasa lapar, kebutuhan untuk menyelesaikan tugas mendesak atau mencapai target kerja memicu dorongan instingtif untuk mengonsumsi sesuatu, meredakan ketegangan.
2. Nafsu makan meningkat di bawah tekanan kerja yang tinggi
Nafsu makan Anda biasanya normal, tetapi saat beban kerja dan stres meningkat, tiba-tiba menjadi sangat besar. Saat makanan masuk ke perut, tekanan kerja seolah-olah ikut tertelan, memberikan rasa kepuasan mental.
3. Hanya makanan junk food yang memuaskan
Di bawah tekanan yang intens, seseorang mengembangkan keinginan khusus untuk makanan berkalori tinggi seperti permen, ayam goreng, cola, dan mie instan. Terkadang dikonsumsi hingga larut malam, hanya makanan junk food ini yang seolah-olah dapat meredakan ketegangan. Namun, keesokan harinya, rasa penyesalan dan bersalah muncul saat melihat kenaikan berat badan.
4. Penumpukan lemak cepat di pinggul dan pinggang
Di bawah tekanan kerja yang intens, tubuh secara tidak sadar mengeluarkan hormon stres. Hormon-hormon ini merangsang nafsu makan dan mendorong konsumsi makanan, sekaligus mempromosikan penumpukan lemak di sekitar pinggang, pinggul, dan bokong. Jika pekerja kantoran memperhatikan penambahan berat badan yang cepat di area-area ini setelah memulai pekerjaan, hal itu mungkin bukan karena duduk terlalu lama, melainkan karena stres.
Setelah mengenali gejala penambahan berat badan akibat stres, bagaimana cara mengatasinya?
1. Sesuaikan pilihan makanan selama periode stres
Saat stres, tubuh melepaskan neuropeptida Y, yang memperkuat keinginan untuk makanan berkalori tinggi atau kaya karbohidrat. Meskipun menahan keinginan ini mungkin sulit, Anda dapat mengontrol jenis makanan yang dikonsumsi. Ganti makanan junk food berkalori tinggi dengan alternatif rendah kalori dan bergizi seperti kacang-kacangan, cokelat hitam, ubi jalar, roti gandum utuh, dan telur rebus.Makanan-makanan ini sangat mengenyangkan, memuaskan keinginan makan sambil melawan nafsu makan yang meningkat akibat stres. Meningkatkan asupan kacang-kacangan dan buah-buahan juga bermanfaat.
2. Berolahraga lebih banyak saat stres
Ada banyak cara untuk melepaskan ketegangan, namun mengonsumsi makanan junk food adalah pilihan yang paling tidak disarankan. Daripada menyesali diri dan menyalahkan diri sendiri setelahnya, lebih baik berlari atau berolahraga. Bahkan beberapa menit berolahraga, atau bernyanyi di rumah, dapat secara signifikan meredakan ketegangan saraf.
 PRE       NEXT 

rvvrgroup.com©2017-2026 All Rights Reserved