Enam Prinsip Esensial untuk Memelihara Pernikahan
 Encyclopedic 
 PRE       NEXT 
Setelah menikah, cinta tidak lagi menjadi tema tunggal dalam ekspresi emosional. Di luar romansa, banyak tema lain yang membutuhkan perhatian. Oleh karena itu, jangan kehilangan keyakinan pada cinta karena kehidupan kehilangan gairah; jangan lupa keberadaan cinta karena rutinitas harian menjadi membosankan. Di atas segalanya, jangan menghancurkan janji-janji masa lalu atau meninggalkan etika pernikahan hanya karena kasih sayang telah memudar.
Banyak kebenaran yang diingat sebelum pernikahan secara tidak sengaja terlupakan setelahnya. Bagi pria dan wanita, memasuki pernikahan bagaikan memasuki labirin di mana banyak hal lepas dari kendali. Namun, kita tetap harus berusaha mempertahankan prinsip-prinsip penting tersebut—jika tidak untuk memenuhinya, setidaknya untuk mengingatnya.
1. Pra-pernikahan adalah pra-pernikahan; pasca-pernikahan adalah pasca-pernikahan. Kedua keadaan tersebut berbeda. Setelah menikah, jangan terus mempertahankan sikap pra-pernikahan. Pernikahan menandakan tanggung jawab yang lebih besar, tekanan yang lebih berat, manisnya yang lebih dalam, dan kebahagiaan yang lebih penuh... Jangan mengklaim bahwa pra- dan pasca-pernikahan sama. Jika demikian, mengapa repot-repot menikah?
2. Pria adalah pria; wanita adalah wanita. Pernyataan ini sangat sederhana.Namun, semakin sederhana kebenaran, semakin dalam maknanya. Mengapa masalah pernikahan sering muncul? Bukan karena pernikahan itu sendiri, tetapi sebagian besar karena salah paham tentang sifat pria dan wanita. Pria sering membayangkan wanita sebagai pria, memaksakan logika pria pada mereka. Wanita sering membayangkan pria sebagai wanita, menuntut kepatuhan pria terhadap harapan wanita. Ketika pemaksaan dan tuntutan ini gagal, konflik pun meletus.
3. Seorang istri seharusnya menghormati suaminya tanpa syarat, dan seorang suami seharusnya mencintai istrinya tanpa syarat. Dalam pernyataan ini, tidak ada salah satu pihak yang diutamakan. Namun, banyak pasangan menikah sering hanya memahami setengah kebenaran, menggunakan setengah yang sangat tidak seimbang itu untuk memaksa pasangan mereka sambil membenarkan tindakan mereka sendiri. Jika Anda punya waktu, mengapa tidak membaca Alkitab? Di dalamnya terdapat ajaran asli tentang pernikahan, yang mampu memberikan kejelasan.
4. Cinta tidak lenyap, tetapi bisa memudar. Setelah menikah, cinta tidak lagi menjadi satu-satunya tema ekspresi emosional. Di luar cinta, ada banyak tema lain yang membutuhkan perhatian. Oleh karena itu, jangan kehilangan keyakinan pada cinta karena kehidupan terasa kurang bersemangat; jangan lupa keberadaan cinta karena kehidupan sehari-hari terasa biasa saja. Di atas segalanya, jangan menghancurkan janji-janji masa lalu atau meninggalkan etika pernikahan hanya karena cinta telah memudar.
5. Kehilangan kesabaran berarti kehilangan jiwa. Kesabaran dapat mencegah banyak konflik, termasuk konflik emosional. Setelah menikah, tidak mungkin bagi pasangan untuk tetap tak terpisahkan setiap hari. Ketika salah satu pasangan absen, kita merasa kesepian dan terisolasi. Ketika kesepian menguasai, jiwa kita berada dalam keadaan paling rentan dan rentan terhadap kehilangan. Pada saat-saat seperti itu, kita harus belajar kesabaran.
6. Selalu prioritaskan pengampunan dan kepercayaan. Pengampunan dan kepercayaan adalah obat universal untuk ketidakharmonisan pernikahan. Ketika masalah muncul, hindari pertengkaran terus-menerus atau menekan pasangan. Kesalahan tidak pernah sepenuhnya satu pihak. Sebaliknya, tenangkan diri dan renungkan pengampunan dan kepercayaan. Jika bahkan ini tidak dapat dicapai, apa arti yang tersisa dalam ikatan pernikahan?
 PRE       NEXT 

rvvrgroup.com©2017-2026 All Rights Reserved