Mengungkap 6 mitos tentang makanan pembunuh sperma: Apa yang benar dan apa yang salah? Mencegah infertilitas pria memerlukan penyesuaian pola makan
Encyclopedic
PRE
NEXT
Kemandulan pada pria terjadi pada sekitar 10% kasus. Di antara kasus tersebut, faktor terkait wanita menyumbang sekitar 50%, faktor terkait pria sekitar 30%, dan faktor bersama sekitar 20%. Secara klinis, kemandulan pada pria dibagi menjadi dua jenis: mereka yang mengalami disfungsi seksual dan mereka yang memiliki fungsi seksual normal. Kelompok terakhir dapat dibagi lebih lanjut berdasarkan hasil analisis sperma menjadi azoospermia, oligospermia, asthenospermia, teratospermia, dan kemandulan dengan jumlah sperma normal.
Langkah diet untuk mencegah infertilitas pria
Mengingat kualitas sperma sangat dipengaruhi oleh lingkungannya, komponen utama semen meliputi protein, arginin, berbagai vitamin, dan unsur trace. Oleh karena itu, pendekatan diet untuk meningkatkan kualitas sperma harus mencakup makanan yang kaya akan nutrisi ini.
Makanan kaya protein umumnya meliputi daging tanpa lemak, telur, ikan, udang, dan produk kedelai. Makanan tinggi arginin meliputi daging tanpa lemak, produk kedelai, dan ikan hitam. Karena arginin esensial untuk produksi sperma, mengonsumsi makanan ini dapat meningkatkan motilitas sperma.
Mengonsumsi suplemen vitamin secara teratur disarankan, karena vitamin membantu produksi sperma, merangsang pembentukan sperma, dan menjaga kesehatan organ reproduksi. Vitamin E, khususnya, memainkan peran penting dalam kesehatan reproduksi pria, sehingga pria dapat mempertimbangkan untuk mengonsumsi kapsul vitamin E sebagai suplemen.
Pria disarankan mengonsumsi tomat secara teratur, karena kadar likopen yang rendah dalam tubuh dikaitkan dengan beberapa penyakit. Pasien dengan penyakit jantung koroner, diabetes, sirosis, kanker prostat, dan infertilitas pria memiliki kadar likopen yang jauh lebih rendah dibandingkan individu sehat. Oleh karena itu, tomat sangat penting dalam diet untuk mengatasi infertilitas pria.
6 Mitos tentang Faktor Pembunuh Sperma: Fakta atau Fiksi?
1. Laptop.Apakah laptop dengan koneksi nirkabel memengaruhi jumlah dan kualitas sperma? Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Fertility and Sterility melaporkan bahwa peneliti menyimpan sampel sperma dari 29 pria dalam kondisi normal dan di bawah laptop dengan koneksi nirkabel. Hasil menunjukkan penurunan motilitas sperma dan kerusakan DNA yang lebih besar pada sampel yang terpapar laptop. Namun, para ahli mencatat bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengonfirmasi dampak laptop pada sperma.
2. Minuman bersoda. Kabar beredar bahwa pewarna buatan atau kandungan kafein tinggi dalam minuman bersoda dapat merusak sperma. Para ahli menyarankan untuk membatasi konsumsi minuman ini demi kesehatan umum, meskipun tidak ada bukti konklusif yang menghubungkan bahan-bahan tersebut dengan infertilitas.
3. Mandi air panas. Meskipun paparan panas yang berkepanjangan dapat memengaruhi jumlah dan kualitas sperma, Dr Robert Kaufman, seorang endokrinolog reproduksi di Baylor Medical Centre, mencatat bahwa meskipun suhu skrotum yang tinggi berkorelasi dengan penurunan jumlah sperma, mandi air panas moderat umumnya aman kecuali dilakukan secara berlebihan setiap hari.
4. Celana dalam.Celana boxer sering disebut sebagai "pembunuh sperma" karena mengencangkan testis, terkadang menekan mereka ke tubuh. Namun, Dr Kaufman menyatakan klaim ini tidak memiliki dasar medis, dengan celana boxer memiliki dampak yang dapat diabaikan terhadap kesehatan pria.
5. Bersepeda. Apakah bersepeda secara teratur membunuh sperma? Sebuah studi terhadap atlet triathlon Spanyol menemukan bahwa jumlah dan kualitas sperma mereka lebih rendah dibandingkan atlet yang tidak bersepeda. Para ahli mencatat kesimpulan serupa dari penelitian lain yang menyarankan bahwa kompetisi bersepeda jarak jauh dapat merusak sperma.
6. Ponsel. Para peneliti di Universitas California, Berkeley meninjau beberapa studi tentang dampak ponsel pada sperma. Delapan dari sembilan studi menunjukkan dampak negatif pada jumlah sperma, terutama saat ponsel disimpan di saku celana. Para ahli menyarankan bahwa radiasi elektromagnetik yang dipancarkan oleh ponsel mungkin berdampak buruk pada sel-sel yang penting untuk produksi sperma di testis.
PRE
NEXT