5 Pertanyaan Esensial yang Harus Dijawab Sebelum Menikah
Encyclopedic
PRE
NEXT
Pertanyaan Pertama: Apa kelemahan-kelemahannya? Apakah itu sesuatu yang bisa saya toleransi?
Tidak ada yang sempurna, bahkan pria paling sukses sekalipun. Namun, kelemahan tidak harus menghalangi pernikahan. Lagipula, wanita juga tidak sempurna. Sebelum menikah, buka mata Anda—bukan untuk mencari orang paling menonjol di kerumunan, tetapi untuk menemukan orang yang paling cocok untuk Anda. Tapi apa yang benar-benar menentukan kesesuaian?Seorang teman dekat baru-baru ini menceritakan dilema ini kepadaku. Dia mengatakan mereka hampir menikah, namun tiba-tiba menemukan segala sesuatu tentang pria itu tidak sesuai—tidak ada yang terasa benar.Saya bertanya padanya: di antara semua kekurangannya, mana yang sebenarnya bisa kamu toleransi? Seperti wanita berjerawat menikahi pria berkacamata—mereka melengkapi satu sama lain dengan sempurna, tidak saling mencari-cari kesalahan. Sayangnya, teman saya tidak bisa menunjuk satu pun kekurangan yang bisa dia terima. Saya harus menasihatinya: mungkin lebih baik membatalkan pernikahan.
Pertanyaan Dua: Apa syarat khusus yang dibutuhkan untuk hidup bersama di masa depan? Apa yang dia miliki saat ini?
Seorang teman dekat baru-baru ini bertemu dengan seorang pria yang memperlakukannya dengan sangat baik. Dia sebelumnya bertemu banyak calon suami, namun tak peduli seberapa menguntungkan kondisi mereka, mereka tak pernah cocok. Pria ini berbeda—gaya bicaranya sempurna melengkapi gayanya. Sayangnya, latar belakang keluarganya sederhana, dan menurut standar konvensional, dia gagal memenuhi banyak kriteria pernikahan.Persyaratan pra-pernikahan setiap orang berbeda. Saya mengenal teman saya dengan baik—bagi dia, menemukan seseorang yang benar-benar bisa diajak terhubung adalah bagian tersulit. Bukan karena dia pilih-pilih, tapi komunikasi memang menjadi tantangan di dunia yang luas ini. Jadi saya menyarankan dia untuk membuat daftar kebutuhan hidup untuk melihat apa yang mungkin mereka kurang bersama. Apakah itu benar-benar berarti mereka belum siap untuk menikah? Setelah perhitungan cermat, mereka sebenarnya sudah memiliki tempat tinggal dan pekerjaan yang teratur—kondisi dasar tersebut sudah cukup.
Pertanyaan Tiga: Apa yang bisa saya tawarkan padanya?
Kasus paling absurd melibatkan seorang teman yang pernah berkata padaku, "Segala sesuatunya sempurna dengan pria ini kecuali satu hal: dia tidak bisa membantu saya dengan apa pun, mulai dari pekerjaan rumah tangga hingga karier saya." Saya akhirnya menyarankan pasangan itu untuk berpisah. Mengapa? Karena fondasi hubungan harus kokoh, dan fondasi itu tidak dibangun atas dasar mengambil, tetapi memberi.Mengambil itu mudah; kita sudah terbiasa meminta dari orang tua sejak lahir. Tapi memberi tidak sesederhana itu. Ketika kita bersedia memberi kepada seseorang tanpa mengharapkan imbalan, itulah cinta sejati. Hal ini berlaku untuk orang tua, anak-anak, dan terutama pasangan.
Pertanyaan Keempat: Apa yang dapat disimpan oleh dua orang dengan bersatu dibandingkan dengan tetap single?
Ini adalah pertanyaan yang menarik, namun setelah dipikirkan, hal ini mirip dengan masalah ekonomi. Jika bersatu menyebabkan pemborosan yang lebih besar daripada tetap single—baik dalam hal uang, waktu, atau sumber daya lain—maka bijaksana untuk mempertimbangkan kembali pernikahan. Meskipun pernikahan bukan transaksi, kita semua tahu bahwa hal itu membutuhkan perawatan. Perawatan yang bijaksana dapat membawa manfaat mutual bagi kedua pasangan.Pemahaman dan perhatian bersama menghemat waktu yang signifikan. Misalnya, saat masih lajang, seseorang mungkin harus menangani tugas rumah tangga yang rumit sendirian; setelah menikah, selalu ada orang yang bisa membantu. Meskipun mereka mungkin tidak terlalu terampil, mereka mungkin menawarkan pijatan untuk meredakan tubuh yang lelah—itu adalah manfaat bersama.
Pertanyaan Lima: Konflik apa yang pernah kita alami di masa lalu?
Sebelum menikah, penting untuk mengevaluasi, terutama konflik-konflik di masa lalu. Beberapa mungkin berargumen bahwa alasan utama menikah adalah untuk menghindari konflik.Pandangan ini sangat keliru. Bahkan pasangan yang paling cocok pun akan menghadapi perbedaan pendapat. Poin pentingnya adalah bagaimana Anda menyelesaikan perbedaan tersebut dan apa yang menjadi inti dari perbedaan tersebut. Jika perbedaan tersebut hanya berasal dari sudut pandang yang berbeda, selamat—Anda dapat melanjutkan pernikahan, meskipun Anda harus mempertimbangkan cara mengelola konflik semacam itu setelah menikah. Namun, jika perbedaan tersebut melibatkan masalah prinsip, Anda harus mempertimbangkannya dengan serius. Lagi pula, prinsip umumnya tidak dapat diubah. Huanzi
PRE
NEXT