Pengasuhan: Terkadang Baik untuk Menjadi Pendukung
Encyclopedic
PRE
NEXT
Anak laki-laki kami baru berusia satu tahun lebih sedikit ketika dia tersandung saat berjalan. Melihat saya di dekatnya, dia mengulurkan tangan kecilnya, mencari bantuan untuk bangun. Saya berpura-pura tidak melihat dan terus berjalan. Istri saya, bingung dan sedikit kesal, mulai berlari untuk mengangkatnya. Saya memberi isyarat agar dia tetap di belakang.Melihat sekeliling, dia tidak menemukan bantuan. Dia menaruh tangannya datar di tanah, bergoyang-goyang berdiri, pantat kecilnya menonjol. Saya tersenyum, dan istri saya juga tersenyum.
Ketika dia pertama kali mencoba permen, saya membiarkannya mencari cara untuk membuka bungkusnya sendiri. Dia menarik dan merobeknya, tapi tidak berhasil. Akhirnya, dia hanya menggigit bungkus dan permen bersama-sama, mengeluarkan permennya.Kemudian, saat makan jeruk atau telur rebus, saya memaksa dia untuk menggunakan mulutnya daripada tangan saya.
Saya juga membimbingnya untuk membereskan mainannya setelah bermain. Suatu kali, saat dia demam tinggi, dia menolak untuk membereskan mainannya setelah bermain. Saya memaksa dia untuk melakukannya sendiri atau dia tidak boleh bermain lagi. Akhirnya, dia membereskan mainannya sambil menangis keras.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat fenomena ini: semakin rajin orang tua, semakin malas anak-anak cenderung menjadi; sebaliknya, di rumah tangga di mana orang tua kurang terlibat, anak-anak sering tumbuh menjadi individu yang mampu. Oleh karena itu, saya percaya bahwa dalam mendidik anak, orang tua harus belajar untuk menjadi "malas" secara tepat—memberikan kesempatan kepada anak untuk menjelajah secara mandiri, mengatasi tantangan, dan belajar keterampilan pemecahan masalah.
PRE
NEXT