Menyusui masih mungkin bagi ibu yang lebih tua
Encyclopedic
PRE
NEXT
Selain kekhawatiran tentang pemulihan pasca persalinan, banyak ibu yang lebih tua juga khawatir tentang memberi makan bayi mereka setelah melahirkan. Apakah mereka harus menggunakan susu formula atau ASI? Ini merupakan sumber kecemasan yang terus-menerus bagi banyak ibu baru.Bagi ibu yang lebih tua, kekhawatiran tambahan muncul: apakah pasokan ASI mereka cukup mengingat usia mereka? Apakah kualitas gizi ASI mereka terganggu? Pada kenyataannya, ibu tidak perlu terlalu khawatir. Kecuali dalam keadaan khusus—seperti ibu dalam kondisi kesehatan yang buruk atau memiliki kondisi medis mendasar—ASI secara konsisten melebihi susu formula sebagai nutrisi paling alami dan sehat untuk bayi.
Prioritaskan pemulihan fisik dan mental
ASI adalah anugerah terbaik alam bagi bayi, dan setiap ibu memiliki kemampuan alami untuk merawat anaknya. Hisapan bayi dan pengosongan payudara secara teratur memberikan stimulasi paling efektif untuk produksi ASI.Banyak ruang bersalin dan kelas antenatal kini menekankan pentingnya rooming-in dan menyusui dini. Bayi memainkan peran krusial dalam produksi ASI, layaknya keran yang perlu dibuka melalui menyusui. Aksi menyusui bayi secara alami merangsang sekresi ASI secara terus-menerus.
Tiga pilar keberhasilan menyusui adalah kontak kulit ke kulit dini, menyusui dini, dan inisiasi menyusui dini.Menyusui dini merupakan yang paling penting di antara ketiga tindakan dini ini dan sebaiknya dimulai dalam waktu setengah jam setelah melahirkan, karena ini merupakan jendela optimal untuk memulai laktasi. Menunda pemberian ASI pertama dapat mengurangi produksi ASI. Namun, menyusui dini tidak sama dengan menyusui secara sering. Kontak kulit ke kulit dini dan menyusui membentuk dasar untuk inisiasi laktasi yang sukses dan produksi ASI yang melimpah, bersama dengan tidur yang cukup dan nutrisi yang seimbang.
Selain itu, jika ibu mengalami kelelahan, depresi, nafsu makan buruk, atau kelemahan, hal ini dapat menyebabkan kejang otot halus saluran susu, yang mengakibatkan penurunan pasokan ASI yang signifikan. Oleh karena itu, ibu yang telah melahirkan sebelumnya disarankan untuk fokus pada pemulihan, menghindari aktivitas berlebihan, menjaga ketenangan pikiran, dan memastikan nutrisi yang cukup. Pendekatan ini membuat pencapaian menyusui, bahkan menyusui eksklusif, menjadi sepenuhnya mungkin. Ingatlah, usia bukanlah faktor utama yang memengaruhi keberhasilan menyusui.
Tingkat menyusui yang rendah setelah operasi caesar Para ahli juga mencatat bahwa produksi ASI tidak terkait dengan apakah persalinan dilakukan secara vaginal atau caesar. Namun, memang ada tingkat keberhasilan menyusui yang lebih rendah di kalangan ibu yang menjalani operasi caesar, dan hal ini memiliki alasan khusus.Nyeri pasca operasi dan pembengkakan perut sebelum buang angin dapat mengganggu kesejahteraan emosional ibu dan menghambat menyusui yang nyaman. Tanpa stimulasi hisapan bayi, produksi ASI semakin melambat. Ketika orang tua melihat bayi menangis karena lapar, mereka sering kali tergoda untuk memberikan susu formula dalam jumlah banyak. Secara bertahap, bayi kehilangan minat untuk menyusu di payudara.
Sebenarnya, menyusui dini dan menyusui sesuai permintaan tetap dapat dilakukan setelah persalinan caesar. Bayi memiliki refleks menyusu yang alami. Meskipun ibu terbatasi oleh nyeri luka, anggota keluarga dapat memegang bayi dalam posisi tengkurap di dekatnya untuk menyusu. Aksi menyusu ini, meskipun tanpa aliran ASI, memberikan kenyamanan bagi ibu dan bayi serta membantu kontraksi rahim. Selain itu, ibu biasanya dapat berbalik dalam 5 hingga 6 jam setelah persalinan caesar.Memang, beberapa orang percaya bahwa mobilisasi lebih awal membantu pemulihan pasca persalinan. Asalkan ibu dapat berbalik, menyusui harus dikelola dengan baik. Jika bayi kesulitan menempel dengan efektif, sehingga memerlukan suplemen formula, tetap penting untuk memastikan payudara ibu menerima hisapan yang cukup. Hal ini mencegah bayi mengembangkan ketidak suka an terhadap payudara.
PRE
NEXT