Lima pola di mana ayah membentuk kesuksesan karier anak
Encyclopedic
PRE
NEXT
Seorang psikolog Amerika berargumen dalam bukunya yang baru bahwa kesuksesan atau kegagalan Anda di tempat kerja terkait dengan jenis ayah yang Anda miliki. Sekarang, luangkan waktu sejenak untuk merenung: gambaran apa tentang ayah Anda yang masih terpatri dalam pikiran Anda?
Psikolog klinis Amerika Stephen Bolt telah menulis buku baru berjudul The Father Factor.
Ia mengidentifikasi lima tipe ayah yang secara signifikan membentuk karier anak-anak: The Achiever, The Ticking Time Bomb, The Negative Thinker, The Absent-Minded, dan The Compassionate Mentor.
Dampak "Ayah Bermasalah" pada Anak Laki-Laki
Ayah yang Sangat Sukses
Jika Anda adalah anak dari seorang ayah yang sangat sukses, Anda mungkin menunjukkan bentuk "prestasi yang terhambat"—sebagai bentuk pemberontakan terhadap ayah Anda, kinerja kerja Anda mungkin jauh di bawah kemampuan sebenarnya, dan Anda mungkin tidak mencapai kesuksesan yang signifikan dalam karier Anda.
Ayah 'Bom Waktu'
Sebagai anak dari seorang ayah 'Bom Waktu', Anda mungkin memiliki kemampuan luar biasa untuk menyenangkan orang lain. Meskipun hal ini awalnya tampak menguntungkan dalam karier Anda, Anda mungkin menjadi terlalu fokus pada menyenangkan rekan kerja, menghindari konflik langsung atau perbedaan pendapat.
Ayah Pasif
Sebagai anak dari seorang ayah pasif, Anda mungkin kesulitan dalam mengekspresikan emosi. Di lingkungan kerja di mana batas antara lingkup profesional dan pribadi kabur, kemampuan untuk berinteraksi secara emosional yang bermakna dengan rekan kerja menjadi krusial.
Ayah yang Absen
Jika Anda adalah anak dari seorang ayah yang absen, Anda mungkin mengalami kesulitan dalam berkolaborasi dengan atasan laki-laki dan berinteraksi dengan figur senior di perusahaan lain. Anda cenderung menyimpan kebencian dan amarah terhadap figur otoritas. Selain itu, Anda mungkin menunjukkan kecenderungan untuk merendahkan rekan kerja dan sering mengalami amarah yang intens.
Bagaimana menjadi ayah yang baik?
Ketika membesarkan anak, banyak ayah terfokus pada konten dan prinsip pendidikan, mengabaikan waktu dan metode, sehingga hubungan dengan anak-anak mereka menjadi tegang.
Proses pendidikan pada dasarnya adalah transmisi emosi dari orang tua ke anak.
Seorang ayah pernah berkata kepada saya: "Membesarkan anak tanpa mendidiknya adalah kegagalan seorang ayah. Mengoreksi dan mendidik anak saya di mana pun dan kapan pun adalah tugas saya sebagai ayah."Anak laki-lakinya yang berusia lima belas tahun, however, berkata: "Aku merasa ayahku tidak pernah benar-benar menyukaiku. Di matanya, aku hanyalah tumpukan kesalahan; keberadaanku saja sudah merampas kebahagiaannya." Ketika seorang ayah memandang mendisiplinkan anaknya hanya sebagai kewajiban, didorong oleh rasa takut dianggap lalai, ia kehilangan kemampuan untuk menunjukkan kasih sayang dan berkomunikasi. Pola asuh seperti ini tidak memiliki dasar hubungan yang sehat. Semakin sering hal ini terjadi, semakin anak terpojok, memicu kecenderungan pemberontakan.
Di kebanyakan rumah tangga, ayah cenderung memainkan peran otoritas, mengubah pendidikan menjadi urusan sepihak. Seiring anak tumbuh, otoritas ini tak terhindarkan akan menghadapi tantangan. Psikolog menyarankan ayah sebaiknya memprioritaskan berbagi emosi dengan anak-anaknya daripada terus-menerus bertindak sebagai pengajar. Selain itu, pengasuhan yang efektif harus didasarkan pada hubungan yang kuat dan intim, di mana pengaruh ikatan tersebut melebihi isi pendidikan itu sendiri.
Periode optimal bagi ayah untuk membangun kedekatan dengan anak-anaknya dimulai setelah usia dua tahun. Pada tahap ini, ayah dapat masuk ke dalam lingkaran hubungan ibu-anak sebagai "pihak ketiga yang mengganggu". Di masyarakat Barat, memberikan kamar tidur sendiri bagi anak berusia dua tahun diakui secara luas sebagai cara untuk mempromosikan perkembangan psikologis. Sebaliknya, anak-anak Tionghoa sering berbagi tempat tidur dengan ibu mereka hingga masa remaja. Tidak berlebihan untuk menyarankan bahwa banyak masalah psikologis pada masa kanak-kanak berasal dari praktik ini.
Periode kritis kedua terjadi ketika anak mencapai usia enam tahun. Pada tahap ini, ayah harus aktif terlibat dalam interaksi keluarga dan pembentukan aturan rumah tangga. Kehadiran anak tunggal menimbulkan banyak tantangan bagi dinamika keluarga; orang tua dan anak harus membentuk segitiga emosional untuk mencapai keseimbangan keluarga. Agar seorang ayah dapat mendidik anaknya dengan efektif, ia harus terlebih dahulu membangun ikatan yang dalam dengan istrinya.
Fase krusial ketiga adalah masa remaja. Dibandingkan dengan ibu, ayah yang terbiasa dengan dunia luar lebih mudah menerima dan mengafirmasi kemandirian anaknya.Tradisionalnya, ayah sering memainkan peran pinggiran dalam keluarga, puas menjelajah dunia sementara anak-anak ditinggalkan dalam perawatan istri. Ayah-ayah seperti itu akan kembali untuk membujuk anak laki-laki mereka yang sudah dewasa untuk meninggalkan rumah, mengajak mereka berbagi dalam cobaan dan kesengsaraan hidup. Karena prevalensi anak tunggal, ayah modern semakin mengambil peran non-tradisional, merampas anak-anak dari sekutu alami dan panduan yang mampu.Secara tidak sadar, ayah modern takut kehilangan anak tunggal mereka, takut akan perpisahan saat anak sudah dewasa. Oleh karena itu, mereka dengan sukarela membiarkan anak-anak mereka menavigasi masa remaja di tengah gejolak batin, meraba-raba di lautan kebingungan.
Pelajaran dari Luar Negeri: Partisipasi Ayah dalam Pengasuhan Anak
Mari kita lihat bagaimana ayah di negara lain berpartisipasi dalam pengasuhan anak. Meskipun ini mungkin mewakili pendekatan budaya yang berbeda, hal ini menawarkan wawasan berharga bagi semua ayah yang mencintai anak-anak mereka.
1. Israel: Secara tradisional menghargai otoritas laki-laki, Israel menerapkan pendidikan terpisah untuk anak laki-laki dan perempuan sejak taman kanak-kanak. Meskipun ada perbedaan yang jelas, tidak ada ketidakadilan dalam perlakuan; kedua jenis kelamin sama-sama bertanggung jawab atas pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan. Di Israel, 95% pasangan bekerja, dan merupakan pemandangan biasa bagi pria untuk melakukan pekerjaan rumah tangga atau merawat anak di rumah. Selain itu, hari Sabbath mingguan mencakup kebiasaan ayah melakukan percakapan pribadi dengan anak-anak mereka.
2. Inggris: Pria Inggris terkenal karena memprioritaskan perawatan anak. Untuk mendapatkan tempat di universitas bergengsi, ayah mulai fokus pada pendidikan anak-anak mereka sejak usia dini.
3. Jerman: Orang Jerman menghabiskan waktu yang cukup lama di rumah, dengan sebagian besar bekerja dari pukul 7:30 pagi hingga 4 atau 5 sore, sejalan dengan jam sekolah. Setelah bekerja, banyak yang melewatkan pertemuan sosial dengan rekan kerja untuk segera pulang ke rumah, menghargai momen keluarga yang hangat dan harmonis. Bagi banyak ayah Jerman, membangun rumah untuk keluarga mereka adalah aspirasi terbesar, mencerminkan kedekatan yang mendalam dalam rumah tangga.
4. Norwegia: Wanita Norwegia mendapatkan cuti melahirkan berbayar selama satu tahun, sementara pria berhak atas cuti ayah berbayar selama empat minggu. Undang-undang ini, yang diberlakukan pada tahun 1979, kini dimanfaatkan oleh sekitar 70% ayah. Ayah Norwegia memandang penyediaan perawatan anak sebagai hak dasar.
PRE
NEXT