Hujan musim semi seperti puisi, dan puisi seperti kehidupan
 Encyclopedic 
 PRE       NEXT 
Tutup mata dan meditasi, mendengarkan hujan musim semi. Hujan musim semi adalah bisikan hati, ratapan langit kepada bumi, dan di atas segalanya, panggilan untuk membangkitkan semangat kelahiran kembali. "Hujan kabut membasahi pagar; bunga aprikot mengejutkan dinginnya equinox musim semi." Setelah equinox musim semi, guntur musim semi mulai, segala sesuatu tumbuh, serangga yang hibernasi muncul, dan padang rumput dipenuhi dengan terbang burung orioles. Kehidupan meledak dengan energi yang cerah.
Kenangan melayang dalam angin musim semi, mengikuti jejak musim semi menuju mimpi-mimpi jauh, mencari keanggunan halus aroma melintasi musim. Mengumpulkan momen-momen terbaik untuk menghiasi keadaan pikiran yang tenang ini. Memegang beberapa helai ranting willow yang kabut, menjaga rasa detasemen dalam tahun-tahun sederhana dan indah ini. Menenun tirai mimpi yang tenang untuk berkelana dalam angin musim semi.Pada bulan Maret, aku menyambutmu dengan sepuluh mil bunga persik yang mekar penuh dan bersinar.
Saat langit perlahan menghangat, hujan musim semi tiba-tiba turun. Hujan musim semi yang berharga seperti minyak, membawa hawa dingin ke wajah saat angin dingin bercampur dengan tetesan halus, namun hal ini tidak mengurangi kecintaanku padanya sedikit pun.
Aku menghargai kesegaran yang segar mengisi udara saat hujan deras, irama tetesan hujan yang jatuh di pakaian, atap, rumput, dan puncak pohon—seolah-olah membangunkan makhluk yang tertidur. Pada malam-malam tenang ini, hujan berbisik tentang perjalanan tahun ini, siapa yang ditemuinya, dan kisah apa yang ditenunnya.
Hujan selalu mengingatkan pada hari-hari masa kecil berlari dan bermain di bawah hujan deras, membawaku kembali ke kampung halaman di utara saat hujan musim semi melayang di atas tanah. Beberapa hari yang lalu, salju musim semi tiba-tiba menutupi kota kecil seperti bunga willow yang melayang turun, menempel di dahan pohon seperti daun giok dan bunga pir yang bersaing untuk mekar. Dunia berubah menjadi putih murni, memberikan kota itu suasana misterius.Tak diragukan lagi, kita para pemuda harus meninggalkan rumah untuk mencari nafkah, namun meski dunia memiliki batas, pikiran kita tak mengenal batas. Setelah meninggalkan rumah, rindu akan rumah selalu bersemayam di sudut hati yang paling lembut.
 PRE       NEXT 

rvvrgroup.com©2017-2026 All Rights Reserved