Merangsang bunga sakura di dalam diri
 Encyclopedic 
 PRE       NEXT 
Di masa mudaku, dua pohon ceri tumbuh di kebun keluarga kami. Setiap musim semi, pohon-pohon itu dipenuhi dengan ceri merah cerah yang berkilau. Memetik satu dan memasukkannya ke mulutku akan meninggalkan rasa manis yang bertahan lama di bibirku dan mengisi hatiku dengan kegembiraan murni! Suatu musim semi, pohon itu berbunga lebih lebat dari sebelumnya,dengan lebah dan kupu-kupu menari di antara bunga-bunga. Diriku yang serakah hampir bisa mencium aroma manis khas ceri; bahkan dalam mimpi, bunga-bunga itu seolah tersenyum padaku dari dahan-dahan. Suatu pagi, masih berbaring di tempat tidur, aku mendengar suara gemeretak dahan-dahan bergoyang di halaman.Aku bergegas keluar dari tempat tidur dan berlari ke halaman, hanya untuk menemukan Ibu memegang tongkat bambu, memukul bunga-bunga sakura. Satu pohon sepertinya sudah dipukul, bunganya berserakan seperti hujan di tanah. Ibu hendak beralih ke pohon sakura kedua! Aku berlari mendekat dan memeluknya erat-erat. Tak peduli seberapa keras dia mencoba menjelaskan, aku tetap memeluk lengannya dengan erat, menolak untuk melepaskan.Tanpa pilihan lain, dia berhenti dan berkata dengan nada berarti: "Baiklah. Ketika ceri matang, kamu akan mengerti mengapa aku memukul bunga-bunga itu!" Tak lama kemudian, bunga-bunga itu jatuh, dan kedua pohon dipenuhi dengan ceri hijau.Terutama pohon yang aku lindungi dari tangan Ibu—pohon itu berbuah begitu lebat hingga tak terhitung. Aku menunjukkannya pada Ibu seolah-olah memamerkan. Dia tersenyum dan menggelengkan kepala. Ketika ceri-ceri itu matang, pohon yang dipukul Ibu berbuah melimpah, setiap ceri seperti lentera kecil menggantung di dahan.Namun, buah di pohon yang tidak tersentuh tetap hijau. Aku dengan teguh menolak makan ceri yang matang, menunggu dengan sabar hingga hijau itu berubah menjadi sedikit merah. Tapi hasilnya mengecewakan: ceri yang matang dimakan, dan pohon yang aku lindungi tetap penuh dengan buah hijau dan kuning.Lebih parah lagi, ceri-ceri itu mulai layu, menghitam, dan jatuh. Warna hijau di batang pohon perlahan memudar, meninggalkan pohon itu layu dan tak bernyawa. Ibuku menjelaskan kepada wajahku yang kecewa: pohon ceri itu mekar terlalu lebat di musim semi dan, tanpa pemangkasan, menghasilkan panen yang berlebihan.Terlalu terbebani oleh permintaan air dan nutrisi yang tidak dapat dipenuhi, pohon itu akhirnya kelelahan! Melalui pengorbanan satu pohon ceri, ibu saya mengajarkan pelajaran: hanya melalui disiplin pemangkasan, keindahan muda dapat berkembang menjadi kebijaksanaan dan kedewasaan. Dalam hidup, kita tidak boleh terlalu serakah; kita harus belajar membuat pilihan.Menyimpan keserakahan berlebihan, mengambil tanpa melepaskan, seperti pohon ceri yang tidak dipangkas. Pada akhirnya, ia menjadi terlalu terbebani dan berakhir dengan tidak mendapatkan apa-apa. Pengorbanan yang tepat mungkin terlihat seperti kerugian, tetapi di masa depan, ia akan menghasilkan imbalan yang lebih melimpah!
(Konten di atas secara eksklusif diizinkan untuk digunakan oleh Family Doctor Online. Penggandaan tanpa izin dilarang.)
 PRE       NEXT 

rvvrgroup.com©2017-2026 All Rights Reserved